“Tar, kamu itu sebenarnya menarik, nggak jelek kok, cantik
malah di mata laki-laki” kata Sani sambil membenarkan posisi jilbab yang
dipakainya di depan cermin. Orang yang sedang diajak berbicara masih sibuk
menyampuli buku-buku dan tidak mengalihkan pandangan ke sahabatnya itu. Hari
ini perpustakaan tidak begitu ramai, mungkin karena ini midterm, sehingga siswa-siswa lebih memilih belajar di depan ruang
ujian masing-masing.
“Terima
kasih udah dibilang cantik pagi-pagi gini.” Tari meletakkan telapak tangannya
di pipi sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Dih
sok imut” Sani duduk di di kursi dekat jendela, menghadap sahabatnya yang belum
beralih dari buku-buku dan sampul-sampul plastik. Dia menatap sahabatnya itu,
kemudian berkata
“mungkin
kamu harus mengubah penampilan dulu, biar cepet laku. Kamu harus punya style untuk bisa lebih menjual diri
kamu,” tangan Sani terangkat ke samping telinga dan mengisyaratkan tanda petik
ketika dia menyebut kata menjual.
“Orang itu harus punya style sendiri, harus bisa mem-branding dirinya. Coba lihat aku, I create my own style, and many people
appreciate it. Yaah, minimal ganti lah sepatu kamu itu sama yang ada heels-nya, roknya yang warna wani atau
gimana gitu kek. Kerudungnya yaa jangan kayak jilbab mau ke pengajian gini lah.
Nanti pasti banyak laki-laki yang ngelirik.”
Tari mendadak berhenti dari aktivitasnya, meletakkan gunting
yang dipegang, kemudian tersenyum.
“Thanks
for your advice, dear. But, well nggak ada hubungannya lah ya antara jilbab
sama aku yang sampai sekarang belum menemukan pendamping hidup. Sekarang coba
aku tanya, apa fungsi jilbab?”
Pandangan Sani mengikuti Tari yang berdiri kemudian
meletakkan buku-buku yang disampul ke rak buku.
“Fungsi
jilbab? Yaa untuk melindungi perempuan lah”
“Nah
itu tau. Hakikatnya jilbab adalah untuk melindungi kita kaum wanita, agar tidak
diganggu, terhindar dari fitnah, dan sebagainya. Itu artinya agar perempuan
tidak terlihat menarik atau mencolok di depan orang yang bukan mahram. Nah kalo
aku disuruh pakai jilbabnya model ini itu, untuk menarik perhatian, menyalahi
tujuan utama pakai jilbab dong? Coba ingat lagi surat An-Nur ayat 31. Dan hendaklah mereka menjulurkan kain
kerudung ke dadanya. Itu artinya kita disuruh Allah memanjangkan, bukan
menggantungkan, diiket di leher kayak gantung diri gitu, atau dibulet-bulet
sampe bikin engap begitu. Haha”
Keduanya tertawa bersama.
“Soal
aku yang masih sendiri sekarang ini, itu Cuma perkara waktu. Mungkin Allah
masih kasih waktu untuk aku buat belajar, memperbaiki ini dan itu,
menyelesaikan urusan ini dan itu. Pun dia yang masih entah dimana juga begitu.
Sama kan kayak kamu dan mas Hasan, butuh waktu berapa lama coba? Dari masa-masa
galau kamu dulu sampe akhirnya bulan depan kalian InsyaaAllah nikah, berapa
lama hayo?”
“Berapa
lama ya? Hehe. Lama dah pokoknya. Udah jaman baheula itu, udah lupa.” Sani
menggaruk kepalanya dan tersenyum salah tingkah.
“Tenang
aja, nanti aku susul kok. InsyaaAllah segera setelah kalian nikah.” Tari
tertawa dibuat-dibuat, menggoda sahabatnya.
“Hah.
Sama siapa coba? Calon aja belum ada”
“Lah ya
sama jodohku lah. Dianya masih otw naik bajaj makanya belum dateng sampe
sekarang haha. Allah is the best planner,
you’ll be surprised when you know His plan for me.”
“Haha. Serah
Ustadzah lah. Yuuk ke kantin bentar, pengen martabak, keburu habis sama siswa
nanti”
“Yuuk,
let’s go kita jajan.”[]
Hijab is something you cannot bargain.
.
.
.
.
cr.pict to owner
