Wednesday, October 31, 2018

Cerita Makna: Jilbab Pengajian


“Tar, kamu itu sebenarnya menarik, nggak jelek kok, cantik malah di mata laki-laki” kata Sani sambil membenarkan posisi jilbab yang dipakainya di depan cermin. Orang yang sedang diajak berbicara masih sibuk menyampuli buku-buku dan tidak mengalihkan pandangan ke sahabatnya itu. Hari ini perpustakaan tidak begitu ramai, mungkin karena ini midterm, sehingga siswa-siswa lebih memilih belajar di depan ruang ujian masing-masing.
         “Terima kasih udah dibilang cantik pagi-pagi gini.” Tari meletakkan telapak tangannya di pipi sambil mengedip-ngedipkan mata.
         “Dih sok imut” Sani duduk di di kursi dekat jendela, menghadap sahabatnya yang belum beralih dari buku-buku dan sampul-sampul plastik. Dia menatap sahabatnya itu, kemudian berkata
         “mungkin kamu harus mengubah penampilan dulu, biar cepet laku. Kamu harus punya style untuk bisa lebih menjual diri kamu,” tangan Sani terangkat ke samping telinga dan mengisyaratkan tanda petik ketika dia menyebut kata menjual.
    “Orang itu harus punya style sendiri, harus bisa mem-branding dirinya. Coba lihat aku, I create my own style, and many people appreciate it. Yaah, minimal ganti lah sepatu kamu itu sama yang ada heels-nya, roknya yang warna wani atau gimana gitu kek. Kerudungnya yaa jangan kayak jilbab mau ke pengajian gini lah. Nanti pasti banyak laki-laki yang ngelirik.”
Tari mendadak berhenti dari aktivitasnya, meletakkan gunting yang dipegang, kemudian tersenyum.

                                        
       “Thanks for your advice, dear. But, well nggak ada hubungannya lah ya antara jilbab sama aku yang sampai sekarang belum menemukan pendamping hidup. Sekarang coba aku tanya, apa fungsi jilbab?”
Pandangan Sani mengikuti Tari yang berdiri kemudian meletakkan buku-buku yang disampul ke rak buku.
        “Fungsi jilbab? Yaa untuk melindungi perempuan lah”
        “Nah itu tau. Hakikatnya jilbab adalah untuk melindungi kita kaum wanita, agar tidak diganggu, terhindar dari fitnah, dan sebagainya. Itu artinya agar perempuan tidak terlihat menarik atau mencolok di depan orang yang bukan mahram. Nah kalo aku disuruh pakai jilbabnya model ini itu, untuk menarik perhatian, menyalahi tujuan utama pakai jilbab dong? Coba ingat lagi surat An-Nur ayat 31. Dan hendaklah mereka menjulurkan kain kerudung ke dadanya. Itu artinya kita disuruh Allah memanjangkan, bukan menggantungkan, diiket di leher kayak gantung diri gitu, atau dibulet-bulet sampe bikin engap begitu. Haha”
Keduanya tertawa bersama.

         “Iye iye Ustadzah, paham ane maksudnya.”
         “Soal aku yang masih sendiri sekarang ini, itu Cuma perkara waktu. Mungkin Allah masih kasih waktu untuk aku buat belajar, memperbaiki ini dan itu, menyelesaikan urusan ini dan itu. Pun dia yang masih entah dimana juga begitu. Sama kan kayak kamu dan mas Hasan, butuh waktu berapa lama coba? Dari masa-masa galau kamu dulu sampe akhirnya bulan depan kalian InsyaaAllah nikah, berapa lama hayo?”
        “Berapa lama ya? Hehe. Lama dah pokoknya. Udah jaman baheula itu, udah lupa.” Sani menggaruk kepalanya dan tersenyum salah tingkah.
        “Tenang aja, nanti aku susul kok. InsyaaAllah segera setelah kalian nikah.” Tari tertawa dibuat-dibuat, menggoda sahabatnya.
        “Hah. Sama siapa coba? Calon aja belum ada”
        “Lah ya sama jodohku lah. Dianya masih otw naik bajaj makanya belum dateng sampe sekarang haha. Allah is the best planner, you’ll be surprised when you know His plan for me.
        “Haha. Serah Ustadzah lah. Yuuk ke kantin bentar, pengen martabak, keburu habis sama siswa nanti”
        “Yuuk, let’s go kita jajan.”[]


Hijab is something you cannot bargain.
.
.
.
.
cr.pict to owner