Saturday, September 7, 2019

Kereta

Antara 2016 hingga 2017, saya sering bolak-balik antara kota tempat saya kuliah dan kampung saya. Bagi saya perjalanan yang paling nyaman menggunakan kereta, mengingat rumah saya tidak begitu jauh letaknya dari stasiun. Harga tiketnya juga murah, ramah di kantong anak kos seperti saya. 

Setiap beberapa sore, di saat matahari beberapa jam lagi sampai di ufuk barat, saya sampai di stasiun kota tempat saya kuliah. Ketika kereta lokal yang saya naiki sampai, kemudian saya turun, saya pasti disambut kereta bagus yang sedang bersiap-siap akan berangkat. Kereta bagus? Iya, saya menyebutnya begitu karena memang kereta itu terlihat bagus di mata saya. Gerbong-gerbongnya berwarna silver mengkilat, setiap saya melintas, bayangan saya bisa terlihat di sina, mirip cermin. Pramugari keretanya terlihat lebih perlente, orang-orang di dalamnya terlihat keren semua. Beberapa kali saya harus melintasi bordes kereta itu untuk menyeberang menuju pintu keluar stasiun, dan bisa dipastikan kepala saya akan menengok kanan kiri, mencuri lihat isi gerbong kereta. Tentu saja isinya jauh berbeda dengan kereta lokal yang biasa saya naiki.
Sumber: liputan6 - saya jarang mengambil gambar kereta yang saya naiki, malu dilihat orang. Hehe


Setiap melihat, bertemu, berpapasan, atau apalah itu namanya, dengan kereta itu, saya pasti akan berbicara sendiri, 
"Uwaaa keretanya bagus. Pasti harga tiketnya selangit" 
Mata saya mungkin terlihat berbinar-binar, mirip anak kecil yang melihat permen kapas di pasar malam. Dan di belakang kalimat itu, pasti akan terselip doa 'iseng'.
"Pengen deh, Ya Allah, bisa naik kereta itu. Sekali aja semumur hidup."
Doa 'iseng' itu berulang setiap kali saya melihat kereta itu. Saya selalu merasa takjub saat melihatnya, mungkin karena saya train mania. (Hehe)

Dan sekarang, 3 tahun sejak pertama saya pertama kali melihat kereta bagus itu, saya bisa menaikinya setiap kali saya pulang, 1 pekan sekali. Seperti pagi ini. Saat menulis ini, saya sedang di atas kereta bagus itu loh. Allah maha baik. Allah selalu mengabulkan doa hambaNya, meski hanya doa 'iseng'. Skenario Allah menjadikan tiket kereta itu murah untuk jarak tertentu, sehingga saya bisa menjangkaunya. Meski tidak semurah tiket kereta lokal, tapi masih sanggup lah kantong anak kos menjangkaunya.
Jadikan cerita saya hanya sebagai analogi, untuk apapun yang sedang kita inginkan dan kita doakan hari ini. Allah selalu mengabulkan doa hambaNya dengan banyak cara. Seperti cerita saya barusan misalnya, Allah menjadikan tiket itu murah, bukan menjadikan saya kaya agar saya bisa membeli tiket mahal. Tapi doa saya terjawab kan? Juga, Allah mengabulkan doa 'iseng' saya beberapa tahun setelah saya berdoa, tidak langsung. Ada jarak waktu di sana. Bisa jadi saat ini kita merasa doa kita belum terkabul karena memang belum waktunya. Allah yang lebih tahu kapan waktu terbaik untuk jawaban dari doa kita. Saya hanya berdoa agar saya bisa menaiki kereta bagus itu hanya sekali seumur hidup. Tapi Allah justru mengizinkan saya menaikinya puluhan kali. Itu artinya Allah menjawab doa kita sesuai dengan porsi kebutuhan kita. Bisa jadi kita ingin pekerjaan A, tapi kemudian 

Allah malah memberi kita pekerjaan B. Berprasangka baik saja, bisa jadi porsi kebutuhan kita ini, atau bisa jadi kita akan lebih bermanfaat dan jauh dari hal-hal subhat di pekerjaan ini. 

Tentang apapun yang sedang menjadi doa kita hari ini, jangan pernah berhenti berdoa. Doa akan mendekatkan kita dengan terwujudnya permintaan itu. Bagaimana jika tidak terwujud? Pasti terwujud, hanya saja kadang kala kita kurang peka bahwa sebenarnya permintaan itu sudah terwujud dalam bentuk yang lebih baik, tapi kita tidak sadar.

Sekian cerita saya di atas kereta bagus, saya harus bersiap turun, perjalanan saya telah sampai :)