Sebentar lagi kita akan
meninggalakan angka belasan dan masuk ke angka puluhan. Hmmhh tak terasa, kita
sudah beranjak dewasa ya teman. Sepertinya baru kemarin kita mengucapkan Janji
bersama-sama. Dengan lantang meneriakkan “Paskibra tak takut salah, tak takut
kalah, tak takut mati. Takut mati untuk apa hidup. Takut hidup mati sekalian.”
Aku merindukan masa-masa itu. Tidak terasa ternyata sudah hampir 5 tahun yang
lalu masa-masa itu bermula. Dipertemukan di sebuah sekolah yang memang bukan
nomor 1, tapi bisa mempersatukan kita ber-17.
Masa orientasi siswa selesai,
tibalah saat pengibaran 17 Agustus, senang rasanya bisa masuk pasukan 8. Ups,
ternyata hanya setengah jalan. Aku terlalu lemah hingga akhirnya tumbang.
Dengan terpaksa aku harus mengatakan “semoga sukses teman-teman” dari luar
gerbang sekolah. Dan.. selamat kalian hebat.
Penerimaan anggota baru paskibra.
Aku harus daftar, kalau tahun ini aku gagal pengibaran di sekolah, maka tahun
depan aku harus ikut pengibaran di alun-alun. –Senangnya bisa masuk Taruna
Bakti Pertiwi—Bertemu orang-orang yang super seperti kalian. Trajunpas 1, 2, 3
semakin mengakrabkan kita. Kita mandiri di tengah gempuran senior yang sedikit
tak kenal ampun. Tibalah lomba pertama, SMA 6 Surabaya, not bad. Belum bisa menjadi juara, tapi aku bahagia karena bersama
kalian. Lomba kedua pun sama. Lomba ketiga sebuah piala berhasil kita genggam.
Ingat insiden di GOR merdeka? Kita berhasil mematahkan barisan mereka. Senang sekali
rasanya. Masa-masa junior yang sangat menyenangkan. Tapi, bagaimanapun seleksi
alam itu selalu ada. Akhirnya hanya 17 orang yang tersisa, tapi tak apa, yang
sedikit ini yang solid.
Tibalah tahun ajaran baru. Kita akan
memiliki adik. Kita akan menaruh harapan besar pada mereka untuk Taruna
kedepannya. Hmmh, ini SMA, sudah pasti ada virus-virus merah jambu yang
melanda. Antara senior-junior, bahkan senior-senior. Ingat kalian pernah
menyidangku karena hal ini? I’ll never
forget it. Tapi terlepas dari itu semua, kita tetap bisa bersatu dan
melalui semuanya. Trajunpas demi trajunpas, diklat, lomba demi lomba bahkan
hingga masalah dengan Bapak Kepala Sekolah kita yang lama yang sangat terhormat
itu. It’s never ending story.
Tahun berganti, kita menjadi kakak
tertua akhinya. Segala persiapan untuk ujian akhir sedikit mengurangi perhatian
kita untuk Taruna. Tapi tidak dengan frekuensi kita untuk berkumpul dan berbagi
cerita. Semuanya indah kan? Memang, masa-masa SMA itu masa-masa paling indah,
karena aku bertemu kalian. Semuanya berwarna karena kalian.
“ Kamu sangat
berarti..
Istimewa di hati..
Slamanya rasa ini..
Jika tua nanti kita tlah hidup
masing-masing,
Ingatlah hari ini..”
Terima kasih untuk senyuman,
tawa, tangis, bentakan, pukulan, pelukan, dan semua hal yang pernah kalian
berikan. Terima kasih telah hadir di fase terindah dalam hidupku. Teman.. Di
bawah gerimis kota Yogyakarta ini aku sangat merindukan kalian. Senang bisa mengingat
kalian hari ini J