Sunday, November 25, 2018

PUTIH

Namanta Putih, salah satu siswa di SLB tempat Ibuku mengajar. Aku lupa apa yang membuatnya menjadi tunanetra, dulu Ibuku pernah bercerita, tapi aku tidak ingat.

Di provinsi kami sedang ada acara Paralympian Games Pelajar VI 2018. Para juara nantinya akan lanjut berjuang di  nasional. Awalnya di cabang olahraga renang provinsi kami tidak memiliki atlet satupun. Sampai kemudian salah seorang dari dinas pendidikan Banjarmasin menghubungi penanggung jawab acara. Beliau mengatakan bahwa ada satu atlet renang yang pindah dari Banjarmasin ke provinsi kami, tapi beliau tidak tahu di kabupaten mana anak itu tinggal. Setelah dicari, broadcast pesan via WA, mencari data sana sini, ditemukanlah siswa pindahan itu. Dan ternyata dia ada di kabupaten kami, dia lah Putih.

Putih sudah satu tahun lebih pindah ke sini, tapi tidak pernah bercerita kalau dia atlet renang. Bahkan kepala sekolah pun kaget saat mengetahuinya. Akhirnya segala  persiapan di lakukan, latihan renang sepulang sekolah seminggu dua kali hingga diet sedikit ketat agar badan Putih sedikit lebih kurus. Ya, setahun dipindah di kabupaten ini badan Putih menjadi sedikit lebih berisi, mungkin karena makanan di sini enak-enak.
"Putih nggak makan malam?" Tanyaku saat Putih menginap di rumahku suatu akhir pekan.
"Kata Bunda Putih nggak boleh makan malam, mbak."
Ah perjuangannya sungguh...

Sehari sebelum perlombaan, siswa-siswa dari sekolah berangkat menggunakan mobil. Jarak dari kabupaten kami ke ibu kota provinsi membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Selama beberapa hari mereka akan berjuang di sana. Tapi putih tentu saja menang tanpa bertanding, dia satu-satunya atlet renang pelajar penyandang disabilitas di provinsi ini. Dia siap mewakili provinsi ini bertanding di laga nasional yang InsyaaAllah akan diadakan di Papua.

Tapi, ternyata jalan cerita tidak semulus itu. Panitia mengatakan atlet renang tidak bisa memakai kerudung saat bertanding, tidak ada baju renang muslimah. Atlet diharuskan memakai baru renang lengan pendek dengan bagian punggung harus terlihat. Putih mundur.
"Putih nggak papa harus mundur? Ini kesempatan emas loh." Ibuku bertanya
"Nggak papa Bu. Daripada Ayah masuk neraka. Putih mau belajar tahfidz aja nanti."

Deg. Anak sekecil itu, bahkan usianya belum 12 tahun, sudah sangat mengerti hakikat menutup aurat. Tidak apa tidak jadi juara, tidak apa tidak jadi atlet nasional, yang penting Putih tidak lepas jilbab. Diri ini malu rasanya, anak kecil saja punya prinsip seteguh itu.
Panitia menghargai keputusan Putih, dia tetap mendapat apresiasi.

Bagi kami, dia sudah juara.

No comments:

Post a Comment