Perempuan dan Perjodohan
Lima kali. Lima kali orang tuanya menyodorkan laki-laki pilihan keluarga besar mereka. Penolakan demi penolakan ia lakukan. Puluhan pertanyaan ia terima, dijawabnya hanya dengan senyuman.
"Apa lagi yang kamu tunggu, Nduk?"
"Sebenarnya laki-laki seperti apa yang kamu cari? Ini tidak mau, itu tidak mau."
"Mau sampai kapan menutup hati dan diri?"
Dan banyak lagi pertanyaan dan pernyataan yang menyudutkan hingga membuatnya tertekan.
Ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang ia tunggu dan apa yang mengganjal di hati. Yang ia inginkan adalah ada seseorang pilihannya yang akan dengan gagah berani menemui orang tuanya, memintanya dengan cara yang indah. Tapi itu semua hanya ada dalam angan.
Hingga akhirnya ia menyerah, menerima dengan penerimaan paling ikhlas. Dengan niat membahagiakan orang tua. Ia memutuskan untuk menerima laki-laki yang belum dikenalnya, laki-laki pilihan orang tuanya.
Perempuan dan Penghianatan
Ia mengusap air mata, tangannya tetap sibuk memegang ponsel, menelfon dan mengetik beberapa pesan. Membatalkan pesanan kue ulang tahun, membatalkan travel, dan memberi tahu temannya bahwa ia batal menginap di rumahnya. Seharusnya besok akan jadi hari yang membahagiakan, dia akan memberikan kejutan pada laki-laki yang selama ini disebutnya pacar. Tapi rencana yang sedianya indah itu tidak terealisasi, kata putus tertulis dalam kolom chat laki-laki yang sudah lima tahun terakhir mengisi hari-harinya.
Terlalu tiba-tiba dang dengan alasan yang terlalu mengada-ada. Hancur, patah, tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Jika alasannya adalah jarak, tiga tahun terakhir mereka menjalani LDR ini tidak pernah ada masalah yang berarti. Dia menemani laki-laki ini sejak dia masih nol, saat masih mahasiswa yang tidak punya apa-apa. Sekarang, ketika laki-laki itu sudah mapan, ia ditinggalkan.
Baru-baru ini saja ia tahu, laki-laki itu pergi untuk satu alasan, orang ketiga. Ia marah, tapi pada akhirnya tidak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya menyerah. Mungkin saja ini adalah titik balik untuk dirinya hijrah. Ia memaknai bahwa sang Pencipta tidak ingin ia larut lebih dalam ke dalam pusaran maksiat. Ia menyerah, ia berserah.
Perempuan dan Penantian
Hari itu hari pertama ia bertemu laki-laki itu, di rumahnya, ia melihat laki-laki itu berdiri di depan pintu rumahnya. Admire at the first sight, dia laki-laki baik, pikirnya. Meski demikian ia tidak punya keinginan untuk mendekat, ia ingat ia baru sembuh dari luka.
Namun pertemuan yang hanya beberapa hari itu menyisakan bekas, bertukar nomor hp, diskusi-diskusi panjang melalui chat, tiba-tiba saja menjadi rutinitasnya. Ia tidak merasa ini istimewa sampai sebuah hadiah diterimanya, dikirimkan dari kota yang jauh di sana. Ia bahagia, dan hatinya mulai terbuka. Waktu berlalu, pertemuan kedua, hadiah kedua dikirimkan, pertemuan ketiga, dan hadiah-hadiah selanjutnya.
Bulan berganti tahun, ada yang berubah, laki-laki itu perlahan menjauh di saat hatinya mulai jatuh. Sadar akan hal itu, ia ikut menjauh karena takut nantinya akan jatuh terlalu jauh. Tak lama ia mendekat lagi, kemudian menjauh lagi. Perempuan ini pengecut sekali, tidak pernah berani bertanya mengapa ia begitu. Laki-laki ini juga pengecut, bagaimana bisa mendekati perempuan selama itu, tanpa mengatakan hal serius sedikitpun. Hingga akhirnya, setelah hampir 4 tahun berlalu, perempuan itu sadar bahwa penantiannya sia-sia. Prinsip yang ia pegang ternyata tidak berlaku di laki-laki yang ditemui beberapa tahun lalu itu. Prinsip bahwa pendekatan itu harus diniatkan untuk menikah, bukan hanya untuk main-main. Selalu yang muncul dipikirannya laki-laki itu akan mengatakan sebuah kabar baik ketika ia mendekat, tetapi ternyata tidak.
Ia lelah, terombang-ambing dalam ketidakjelasan. Ia marah, bagaimana bisa ada orang yang tega bermain dengan hati dengan begitu mudahnya. Perlahan ia menjauh, bukan karena telah menemukan yang baru, tidak sama sekali. Tidak mungkin secepat itu ia beralih setelah jatuh berkali-kali. Ia menyerah, menyerahkan pada Sang Pemilik Hati, pasti akan ada hikmah di balik semua ini. Sementara, ia ingin sendiri.
----------------------
Ketiga cerita perempuan di atas bertemu di sebuah meja ditemani tiga gelas kopi. Ketika cerita itu meluncur dari bibir masing-masing, ada air mata yang mengiringi. Bertiga saling tatap, saling menguatkan, dan menyadarkan. Bahwa bukan diri kita sendiri yang paling menderita, mendengarkan cerita orang lain akan dapat membuat ketiganya merasa bersyukur, bahwa mereka tidak sendiri.
Ketahuilah, dibalik mandiri dan cerianya seorang perempuan, ada luka yang ia simpan dalam sekali, terbungkus sangat rapi, hingga tidak ada seorangpun mengetahui.
No comments:
Post a Comment