Banyak orang melontarkan kritik terhadap hijab, mereka mengatakan bahwa ia menyebabkan lemahnya berbagai kegiatan kewanitaan yang Allah titipkan pada wanita dan menyeretnya untuk menjadi pengangguran. Padahal tidak demikian. Hijab Islami tidak menelantarkan berbagai potensi wanita, seperti keahlian-keahliannya, dan berbagai kemampuannya. Kritik ini hanya pantas ditujukan kepada model hijab yang pernah berkembang di tengah-tengah orang India, Iran atau Yahudi zaman dulu. Karena, hijab islami tidak pernah menganjurkan agar mengurung wanita dalam rumah dan tidak mendukung kepasifannya di tengah semangat bakat dan kemampuannya.
“Katakanlah kepada wanita yanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki- laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara wanita mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kaki-kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’ ” (QS. An-Nur:31)
Berdasarkan ayat di atas, maka hendaknya wanita jangan menampakkan perhiasan dalam arti kata menyeluruh. Kecuali wajah dan telapak tangan. Selain itu, wanita harus memanjangkan penutup kepalanya untuk menutupi dadanya. Tentunya itu bukan untuk menutupi kepala saja secara khusus, akan tetapi yang dimaksud adalah menutupi kepala, leher dan dada. Dulu wanita-wanita Arab memakai pakaian dengan dada terbuka, tidak menutupi leher dan dada. Penutup kepala yang mereka kenakan selalu didikat dan diuraikan ke belakang kepalanya seperti yang berkembang sekarang di kalangan kaum lelaki Arab. Hal itu tentunya menyingkap dua telinga, anting-anting, sisi keduanya, leher dan leher depan. Ayat ini memerintahkan agar melebarkan penutup kepala dari dua sisi sehingga dapat menutupi leher depan sehingga bagian-bagian tersebut tadi berada di bawah penutupnya.
Berhijabnya seorang wanita ketika berbaur dengan masyarakat, terutama laki-laki adalah hal yang sngat positif. Hal tersebut diberlakukan dalam Islam adalah untuk kebaikan para wanita sendiri, agar martabat nya terjaga dan dihargai sebagai makhluk Allah yang mulia. Di samping itu, hal tersebut akan lebih menyucikan diri dari pikiran-pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan perangkat-perangkat tubuh tertentu yang senantiasa menyelimuti manusia. Jadi, ada yang salah dengan yang kita kenakaan? Jawabannya tentu tidak kan? Teteplah jadi diri sendiri dan berpegang teguh pada agama Allah SWT. :) /(S)_Asa * dari berbagai sumber tentang Hijab.
No comments:
Post a Comment