Thursday, December 15, 2011

PATAHAN SAYAP MALAIKAT


Rerumputan sore ini terlihat lebih hijau dari biasanya. Mungkin karena gerimis yang sejak tadi mengguyur kota Jogjakarta ini. Seorang gadis sedang duduk di depan sebuah perpustakaan kota. Tangannya menggenggam beberapa lembar foto yang sedari tadi dilihatnya sambil tersenyum.
            “Cie Rina, mentang-mentang yang habis tunangan, dari tadi senyum-senyum terus lihatin foto pesta tunangan. ” Celetuk Asri, salah satu temannya yang tiba-tiba menghampiri.
            “Apaan sih, orang baru lihat sekali juga.”
            “Ngomong-ngomong kamu sama mas Rio kan udah 2 bulan tunangan, kapan nih nikahnya?”
            “Ya Allah, kita berdua ini statusnya masih mahasiswa, mana boleh ngomongin nikah-nikah gitu!”
            “Siapa juga yang nglarang? Lebih cepat lebih baik kan?”
“Nggak! Udah ayo ke masjid, udah adzan Ashar tuh.”
            “Oh iya, ayo.”
            Pukul lima tepat Rina bergegas meninggalkan kampus dan pulang ke rumah. Di dekat pintu gerbang ia bertemu dengan Rio. Mereka hanya saling tersenyum dan mengucap salam. Rio dan Rina memang sudah bertunangan, tetapi mereka berdua tidak pernah saling bersentuhan. Cinta yang tercipta di antara mereka berdua adalah cinta yang Islami. Cinta yang dibatasi dengan hijab, hijab yang hanya akan runtuh dengan datangnya ijab. Meski hubungan yang mereka jalin tidak seperti hubungan remaja pada umumnya yang mengedepankan status “pacaran”, mereka tetap bahagia.
            Suatu siang, Sabrina Alfriesta yang akrab disapa Rina itu sedang mengendarai sepeda hijaunya menuju rumah temannya. Di perempatan lampu merah ia dikejutkan oleh sesuatu. Ia melihat sesorang yang mirip Riomembonceng perempuan yang juga dikenalnya. Tetapi karena Rina hanya melihatnya sekilas, ia tidak merasa yakin bahwa itu adalah Rio, tunangannya. Ia mencoba berkhusnudzon dan terus mengendarai sepedanya. Tiba di depan sebuah café, ia melihat motor yang tadi dilihatnya sedang terparkir di sana. Rina menghentikan sepedanya. Ia tertegun, ternyata benar orang yang tadi dilihatnya adalah Rio. Dia terlihat sedang mengobrol dengan seorang perempuan. Tanpa piker panjang Rina segera mengiriminya pesan.
                Assalamualaikum
      Akh, lg dmn skrg?
Kurang dari 1 menit Rio membalas pesan itu.
               
Waalaikumsalam
Lg di rmh, knp?
Seketika itu tangisnya pecah. Orang yang dicintainya ternyata tega membohonginya hanya karena perempuan lain.
                Gpp Akh, aq kira
      di kampus
      Setelah kejadian itu, Rina tidak pernah menjawab telfon ataupun membalas sms dari Rio. Hingga 3 hari keadaan tidak berubah. Sampai suatu siang, tanpa sengaja mereka bertemu di kantin.
            “Assalamualaikum.” Rio mengawali pembicaraan.
            “Waalaikumsalam. ” Jawab Rina dengan tersenyum.
            “Boleh kita bicara sebentar?”
            “Tentu.”
Mereka duduk berhadapan di salah satu meja di kantin yang hari ini terlihat lengang.
            “Maaf Rin, boleh aku tanya? Kenapa beberapa hari ini kamu nggak pernah bales smsku? Angkat telfonku juga nggak pernah.”
Rina tersenyum dan berkata.
            “Aku mau cerita ke Akh Rio dulu, boleh kan?”
            “Boleh, apa?” Rio menjawab ragu.
            “3 hari yang lalu, aku melihat seorang laki-laki di café deket lampu merah. Ternyata laki-laki itu adalah tunanganku. Dia sedang bersama seorang perempuan yang katanya ingin dia lupakan. Tapi, yang aku lihat di sana bukan wajah-wajah tegang yang sedang menyelesaikan masalah, melainkan wajah-wajah bahagia diliputi cinta.” Dengan tatapan nanar Rina menceritakannya, tetapi ia tetap tersenyum seolah tidak memiliki beban.
            “Kalau Akh Tanya kenapa aku nggak bales SMS atau angkat telfon dari Akh, itu karena aku sibuk. Aku terlalu sibuk mengumpulkan serpihan perasaan yang baru saja aku bangun dengan susah payah. Perasaan itu hancur bukan karena Akh sedang bersama Aida waktu itu, tapi karena Akh berbohong. Akh berbohong hanya karena perempuan yang katanya ingin akh lupain itu.” Rina melanjutkan ceritanya tanpa kehilangan senyum.
Tiba-tiba Asri datang memecah percakapan mereka berdua,
            “Na, ayo!! Kita ada kelas nih.”
Rina menatap Rio yang sedari tadi hanya diam, ia tersenyum,
            “Udah dulu ya Akh, aku ada kelas, Assalamualaikum.”
            “Waalaikumsalam Warahmatullah. .”
            Rio hanya tertunduk, ia malu pada dirinya sendiri. Saat ini dia merasa bahwa dirinyalah orang paling bodoh di dunia ini. Penyesalannya sangat dalam karena melihat senyum Rina tadi. Dia tahu bahwa di balik senyum Rina tadi tertancap luka yang lebih dalam dari penyesalan yang ia rasakan sekarang.
            Selama berhari-hari Rio berusaha menghubungi Rina. Telfon, SMS tidak ad jawaban, bahkan di kampus Rio tidak pernah bertemu Rina. Ketika dating ke rumah Rina pun, Ibunya selalu mengatakan bahwa Rina sedang keluar. Sampai suatu pagi di hari kamis, Asri menghampirinya dan memberikan sebuah suratyang katanya dari Rina.
Jogjakarta, 17 Juni 2011
Kepada
Lazuardy Yusrio
Assalamualaikum Warahmatullah. .
                Sebelumnya aku minta maaf Akh kalau beberapa hari ini aku menjauhi Akh. Demi Allah aku tidak pernah membenci Akh karena kejadian ini. Aku hanya sedang ingin sendiri.
Mungkin ketika Akh baca surat ini, aku sudah berada di tempat yang jauh. Aku mendapat tugas belajar selama 2 tahun di Malaysia Akh. Maaf kalau aku merahasiakannya selama ini. Semoga waktu 2 tahun ini cukup bagi kita untuk menyadari kesalahan masing-masing. Aku tidak akan mengikatnu Akh. Jika Allah berkehendak maka kita akan dipertemukan lagi. Tetapi jika tidak, semoga Akh mendapat yang lebih baik.
Wassalamualaikum Warahmatullah. .
Yang menghormatimu
Sabrina Alfriesta

            Rio menangis sambil menggengam cincin yang diselipkan Rina di surat itu. Tak ada lagi yang bias ia lakukan selain menunggu sebagai bukti cintanya. Penyesalannya takkan berarti lagi.
            Sayap malaikat itu telah patah dan jatuh. Ia diterbangkan angin hingga ke tempat yang sangat jauh. Sang malaikat yang kehilangan sayap itu hanya dapat menyesali tanpa bias berbuat apa-apa. Karena ia tidak akan bias terbang tanpa sayap itu. /(S)_asa*13.12.11

No comments:

Post a Comment