Tuesday, September 18, 2018

Ketika Kamu Bersedih..

Ketika kamu bersedih, cobalah untuk membuat orang lain tersenyum. Seketika kamu akan dapat tersenyum bahkan tertawa bersamanya

Makan es krim atau coklat? Itu hanya bisa menetralkan dan menenangkan perasaan, tidak sampai menbuat perasaan kita berada di garis positif.

Ketika di tengah aktivitasmu tiba-tiba kamu teringat hal yang membuatmu bersedih, maka "auto senyum".
Ibarat kata kamu sedang terluka, ketika kamu tersenyum saat mengingat hal itu, maka sama saja kamu sedang mengoleskan obat yang dapat membuat luka itu cepat mengering.

Selamat mencoba ;)

---------------------------------

 Oh iya satu lagi, ingatlah bahwa akan ada pelangi yang cantik setelah hujan reda

Sunday, September 16, 2018

Stasiun

Di stasiun ini, seorang perempuan pernah tersenyum karena perjumpaannya dengan seseorang.
Melambaikan tangan dan tersenyum bahagia.

Di stasiun ini pula, dia harus berpisah dengan seseorang. Saling memandang dari kejauhan, tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus ia tampakkan.
Harus tersenyumkah? Tapi ia merasa sedih dengan perpisahan itu.
Harus murungkah? Tapi ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia sedang bersedih.

Ada janji yang pernah ditepati di stasiun ini, tapi ada pula janji yang tidak pernah ditepati.

Hari ini, ia datang lagi.
Sedari tadi tak berhenti memperhatikan lalu lalang orang, wajah terlihat gelisah.
Ia sedang menunggu seseorang yang sebenarnya iya tahu tidak akan datang.
Benar saja, sampai kereta yang akan membawanya pergi, datang. Orang yang ia tunggu tak kunjung tiba.

Perempuan itu duduk seorang diri di sebuah bangku panjang.
Ia tertunduk, air matanya sudah tak terbendung
Ia melihat jam tangannya, menghela nafas panjang, kemudian bangkit.
"Aku pulang"

Friday, September 14, 2018

Perempuan dan Benteng Tinggi

Setiap perempuan memiliki benteng. Ukuran tinggi bentengnya tergantung masing-masing orang. Ada yang tinggi, kokoh, tidak mudah roboh. Ada yang rendah, tapi kokoh. Dan tentu saja ada yang rendah dan juga mudah roboh.
Di saat seorang laki-laki datang, tidak serta merta benteng itu roboh, lalu mengizinkan laki-laki itu masuk ke dunianya, tergantung seberapa pandai laki-laki itu  dan seberapa kokoh bentengnya.

Suatu hari seorang perempuan dengan benteng yang tinggi, tapi entah cukup kokoh atau tidak bertemu dengan seorang laki-laki. Untuk waktu yang yang cukup lama, benteng itu masih berdiri tegak. Hari demi hari laki-laki semakin terlihat meyakinkan. Dan akhirnya, perempuan itu merasa yakin bahwa dia adalah laki-laki yang akan tinggal. Seketika benteng itu roboh. Perempuan itu tersenyum bergegas menyambut.

Tapi tahukah? Ketika benteng itu sudah roboh, sang laki-laki justru pergi, seolah-olah dia berkata " Oh ternyata hanya begini keadaan dibalik benteng ini. Baiklah, rasa penasaranku sudah terjawab, aku pergi."
Senyum yang tadinya merekah, hilang seketika. Perempuan itu berdiri mematung, tak bergerak sedikitpun. Dia hanya bisa menatap punggung laki-laki yang mulai pergi menjauh.

Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya,
Kenapa dia pergi,
Apakah aku membuat suatu kesalahan,
Apakah aku tidak pantas menurutnya,
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar dalam kepalanya. Dan sampai detik ini dia tidak mendapatkan jawaban.

Dia masih berdiri mematung, di tempat yang sama dan dengan perasaan yang sama. Kepalanya menengadah ke langit, "Baiklah, mulai hari ini benteng ini akan jauh lebih kokoh"

Hari itu dia membangun kembali puing-puing bentengnya yang telah roboh. Tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi bukan?

Setidaknya dia sudah belajar, bahwa yang dipertemukan belum tentu akan dipersatukan, bahwa apa yang dia sukai, tidak selalu dapat menjadi miliknya, dan bahwa apa dia pikir baik untuknya tidak  selalu juga baik menurut Tuhannya.

Setidaknya pula...nanti waktu bisa menyembuhkan lukanya.

Thursday, September 6, 2018

Opini: Mapan atau Tidak

Ada laki-laki yang beranggapan bahwa dirinya harus mapan dulu baru menikah.
Padahal sebagian perempuan ingin menemani laki-lakinya dari bawah, sejak dia bukan siapa-siapa.
Ini hanya opini ya, berdasarkan dari cerita banyak teman ketika ditanya laki-laki seperti apa yang ingin mereka nikahi.
Ada satu pendapat seorang teman yang langsung saya suka dan setuju.
"Kalau kita menikah denga laki-laki yang masih start up , kita akan lebih siap ketika nanti di tengah perjalanan rumah tangga ada jatuhnya. Ya namanya manusia, namanya hidup, tidak selalu di atas, pasti ada saatnya kita akan di bawah. Nah kalau awalnya kita sudah pernah 'susah', ketika nanti fase 'di bawah' itu datang, kita akan lebih siap dibandingkan dengan yang sejak awal menikah sudah mapan, apa-apa sudah ada"
Saya mengamati kata-kata teman itu, dan berpikir benar juga ya.

Well, karena mungkin saya belum mengalaminya, saya hanya bisa mengatakan 'mungkin' memang baiknya begitu. Tapi terlepas dari mapan atau tidak, ada hal yang lebih penting dari hal itu kan? Dan tanpa saya katakan apa itu, pasti banyak orang sudah tau :)
.
.
.
.
.
.
.
"Tidak harus mapan dulu, kamu hanya perlu menemukan perempuan seperti itu."

Tuesday, September 4, 2018

Hujan

Hujan pernah membuat kita berteduh di bawah atap pertokoan yang sama. Menengadahkan tangan untuk merasakan sejuknya air hujan.
Tersenyum bahagia meskipun perjalanan kita harus terhenti sejenak.

Hujan juga pernah membuat kita berdiam diri di rumah masing-masing. Membuat kita berdiri di samping jendela, melihat indahnya tetesan air hujan yang mengenai jendela.
Turunnya hujan hari itu menunda pertemuan kita.

Hujan pernah melakukan keduanya, menahan kita agar bersama sementara waktu, dan juga menahan kita agar terpisah sementara waktu.
Hujan selalu mempunyai cerita yang menarik tentang keduanya.