Friday, September 14, 2018

Perempuan dan Benteng Tinggi

Setiap perempuan memiliki benteng. Ukuran tinggi bentengnya tergantung masing-masing orang. Ada yang tinggi, kokoh, tidak mudah roboh. Ada yang rendah, tapi kokoh. Dan tentu saja ada yang rendah dan juga mudah roboh.
Di saat seorang laki-laki datang, tidak serta merta benteng itu roboh, lalu mengizinkan laki-laki itu masuk ke dunianya, tergantung seberapa pandai laki-laki itu  dan seberapa kokoh bentengnya.

Suatu hari seorang perempuan dengan benteng yang tinggi, tapi entah cukup kokoh atau tidak bertemu dengan seorang laki-laki. Untuk waktu yang yang cukup lama, benteng itu masih berdiri tegak. Hari demi hari laki-laki semakin terlihat meyakinkan. Dan akhirnya, perempuan itu merasa yakin bahwa dia adalah laki-laki yang akan tinggal. Seketika benteng itu roboh. Perempuan itu tersenyum bergegas menyambut.

Tapi tahukah? Ketika benteng itu sudah roboh, sang laki-laki justru pergi, seolah-olah dia berkata " Oh ternyata hanya begini keadaan dibalik benteng ini. Baiklah, rasa penasaranku sudah terjawab, aku pergi."
Senyum yang tadinya merekah, hilang seketika. Perempuan itu berdiri mematung, tak bergerak sedikitpun. Dia hanya bisa menatap punggung laki-laki yang mulai pergi menjauh.

Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya,
Kenapa dia pergi,
Apakah aku membuat suatu kesalahan,
Apakah aku tidak pantas menurutnya,
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar dalam kepalanya. Dan sampai detik ini dia tidak mendapatkan jawaban.

Dia masih berdiri mematung, di tempat yang sama dan dengan perasaan yang sama. Kepalanya menengadah ke langit, "Baiklah, mulai hari ini benteng ini akan jauh lebih kokoh"

Hari itu dia membangun kembali puing-puing bentengnya yang telah roboh. Tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi bukan?

Setidaknya dia sudah belajar, bahwa yang dipertemukan belum tentu akan dipersatukan, bahwa apa yang dia sukai, tidak selalu dapat menjadi miliknya, dan bahwa apa dia pikir baik untuknya tidak  selalu juga baik menurut Tuhannya.

Setidaknya pula...nanti waktu bisa menyembuhkan lukanya.

No comments:

Post a Comment