Wednesday, December 19, 2018

Hujan Satu Paket

Aku tahu kamu menyukai hujan.
Tapi aku juga tahu kamu benci genangan air di jalan.
Karena jika kamu sedang mengayuh sepeda di tepian jalan, kemudian ada mobil lewat, air kotor genangan itu akan mengenai baju putih hari seninmu.

Aku tahu kamu menyukai hujan.
Tapi aku juga tahu kamu benci kemacetan yang terjadi saat hujan.
Kemacetan itu akan menahanmu lebih lama di jalan, dan anak-anak kecil yang sedang menunggumu akan duduk bosan. Kamu tidak pernah suka membuat orang lain menunggu.

Aku tahu kamu menyukai hujan.
Tapi aku tahu kamu tidak menyukai petir yang datang menyertai hujan.
Karenanya kamu merasa tidak aman untuk bermain dengan hujan di luar.



Meski begitu kamu tetap menyukai hujan.
Hujan dengan segala risikonya itu.
Hujan yang mengakibatkan adanya genangan, dan karena hujan kendaraan tidak bisa bergerak secepat biasanya, terjadilah macet. Dan ketika hujan turun cukup deras, tak jarang petir datang.
Hujan satu paket, iya kan?

Aku..layaknya hujan satu paket itu. Ada sesuatu pada diriku yang akan kamu suka, dan ada yang akan kamu benci.
Bisakah kamu juga tetap menerimaku, seperti ketika kamu tetap menyukai hujan dengan segala risikonya?

Menyukai hujan satu paket.[]

Sunday, November 25, 2018

PUTIH

Namanta Putih, salah satu siswa di SLB tempat Ibuku mengajar. Aku lupa apa yang membuatnya menjadi tunanetra, dulu Ibuku pernah bercerita, tapi aku tidak ingat.

Di provinsi kami sedang ada acara Paralympian Games Pelajar VI 2018. Para juara nantinya akan lanjut berjuang di  nasional. Awalnya di cabang olahraga renang provinsi kami tidak memiliki atlet satupun. Sampai kemudian salah seorang dari dinas pendidikan Banjarmasin menghubungi penanggung jawab acara. Beliau mengatakan bahwa ada satu atlet renang yang pindah dari Banjarmasin ke provinsi kami, tapi beliau tidak tahu di kabupaten mana anak itu tinggal. Setelah dicari, broadcast pesan via WA, mencari data sana sini, ditemukanlah siswa pindahan itu. Dan ternyata dia ada di kabupaten kami, dia lah Putih.

Putih sudah satu tahun lebih pindah ke sini, tapi tidak pernah bercerita kalau dia atlet renang. Bahkan kepala sekolah pun kaget saat mengetahuinya. Akhirnya segala  persiapan di lakukan, latihan renang sepulang sekolah seminggu dua kali hingga diet sedikit ketat agar badan Putih sedikit lebih kurus. Ya, setahun dipindah di kabupaten ini badan Putih menjadi sedikit lebih berisi, mungkin karena makanan di sini enak-enak.
"Putih nggak makan malam?" Tanyaku saat Putih menginap di rumahku suatu akhir pekan.
"Kata Bunda Putih nggak boleh makan malam, mbak."
Ah perjuangannya sungguh...

Sehari sebelum perlombaan, siswa-siswa dari sekolah berangkat menggunakan mobil. Jarak dari kabupaten kami ke ibu kota provinsi membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Selama beberapa hari mereka akan berjuang di sana. Tapi putih tentu saja menang tanpa bertanding, dia satu-satunya atlet renang pelajar penyandang disabilitas di provinsi ini. Dia siap mewakili provinsi ini bertanding di laga nasional yang InsyaaAllah akan diadakan di Papua.

Tapi, ternyata jalan cerita tidak semulus itu. Panitia mengatakan atlet renang tidak bisa memakai kerudung saat bertanding, tidak ada baju renang muslimah. Atlet diharuskan memakai baru renang lengan pendek dengan bagian punggung harus terlihat. Putih mundur.
"Putih nggak papa harus mundur? Ini kesempatan emas loh." Ibuku bertanya
"Nggak papa Bu. Daripada Ayah masuk neraka. Putih mau belajar tahfidz aja nanti."

Deg. Anak sekecil itu, bahkan usianya belum 12 tahun, sudah sangat mengerti hakikat menutup aurat. Tidak apa tidak jadi juara, tidak apa tidak jadi atlet nasional, yang penting Putih tidak lepas jilbab. Diri ini malu rasanya, anak kecil saja punya prinsip seteguh itu.
Panitia menghargai keputusan Putih, dia tetap mendapat apresiasi.

Bagi kami, dia sudah juara.

Wednesday, October 31, 2018

Cerita Makna: Jilbab Pengajian


“Tar, kamu itu sebenarnya menarik, nggak jelek kok, cantik malah di mata laki-laki” kata Sani sambil membenarkan posisi jilbab yang dipakainya di depan cermin. Orang yang sedang diajak berbicara masih sibuk menyampuli buku-buku dan tidak mengalihkan pandangan ke sahabatnya itu. Hari ini perpustakaan tidak begitu ramai, mungkin karena ini midterm, sehingga siswa-siswa lebih memilih belajar di depan ruang ujian masing-masing.
         “Terima kasih udah dibilang cantik pagi-pagi gini.” Tari meletakkan telapak tangannya di pipi sambil mengedip-ngedipkan mata.
         “Dih sok imut” Sani duduk di di kursi dekat jendela, menghadap sahabatnya yang belum beralih dari buku-buku dan sampul-sampul plastik. Dia menatap sahabatnya itu, kemudian berkata
         “mungkin kamu harus mengubah penampilan dulu, biar cepet laku. Kamu harus punya style untuk bisa lebih menjual diri kamu,” tangan Sani terangkat ke samping telinga dan mengisyaratkan tanda petik ketika dia menyebut kata menjual.
    “Orang itu harus punya style sendiri, harus bisa mem-branding dirinya. Coba lihat aku, I create my own style, and many people appreciate it. Yaah, minimal ganti lah sepatu kamu itu sama yang ada heels-nya, roknya yang warna wani atau gimana gitu kek. Kerudungnya yaa jangan kayak jilbab mau ke pengajian gini lah. Nanti pasti banyak laki-laki yang ngelirik.”
Tari mendadak berhenti dari aktivitasnya, meletakkan gunting yang dipegang, kemudian tersenyum.

                                        
       “Thanks for your advice, dear. But, well nggak ada hubungannya lah ya antara jilbab sama aku yang sampai sekarang belum menemukan pendamping hidup. Sekarang coba aku tanya, apa fungsi jilbab?”
Pandangan Sani mengikuti Tari yang berdiri kemudian meletakkan buku-buku yang disampul ke rak buku.
        “Fungsi jilbab? Yaa untuk melindungi perempuan lah”
        “Nah itu tau. Hakikatnya jilbab adalah untuk melindungi kita kaum wanita, agar tidak diganggu, terhindar dari fitnah, dan sebagainya. Itu artinya agar perempuan tidak terlihat menarik atau mencolok di depan orang yang bukan mahram. Nah kalo aku disuruh pakai jilbabnya model ini itu, untuk menarik perhatian, menyalahi tujuan utama pakai jilbab dong? Coba ingat lagi surat An-Nur ayat 31. Dan hendaklah mereka menjulurkan kain kerudung ke dadanya. Itu artinya kita disuruh Allah memanjangkan, bukan menggantungkan, diiket di leher kayak gantung diri gitu, atau dibulet-bulet sampe bikin engap begitu. Haha”
Keduanya tertawa bersama.

         “Iye iye Ustadzah, paham ane maksudnya.”
         “Soal aku yang masih sendiri sekarang ini, itu Cuma perkara waktu. Mungkin Allah masih kasih waktu untuk aku buat belajar, memperbaiki ini dan itu, menyelesaikan urusan ini dan itu. Pun dia yang masih entah dimana juga begitu. Sama kan kayak kamu dan mas Hasan, butuh waktu berapa lama coba? Dari masa-masa galau kamu dulu sampe akhirnya bulan depan kalian InsyaaAllah nikah, berapa lama hayo?”
        “Berapa lama ya? Hehe. Lama dah pokoknya. Udah jaman baheula itu, udah lupa.” Sani menggaruk kepalanya dan tersenyum salah tingkah.
        “Tenang aja, nanti aku susul kok. InsyaaAllah segera setelah kalian nikah.” Tari tertawa dibuat-dibuat, menggoda sahabatnya.
        “Hah. Sama siapa coba? Calon aja belum ada”
        “Lah ya sama jodohku lah. Dianya masih otw naik bajaj makanya belum dateng sampe sekarang haha. Allah is the best planner, you’ll be surprised when you know His plan for me.
        “Haha. Serah Ustadzah lah. Yuuk ke kantin bentar, pengen martabak, keburu habis sama siswa nanti”
        “Yuuk, let’s go kita jajan.”[]


Hijab is something you cannot bargain.
.
.
.
.
cr.pict to owner

Tuesday, September 18, 2018

Ketika Kamu Bersedih..

Ketika kamu bersedih, cobalah untuk membuat orang lain tersenyum. Seketika kamu akan dapat tersenyum bahkan tertawa bersamanya

Makan es krim atau coklat? Itu hanya bisa menetralkan dan menenangkan perasaan, tidak sampai menbuat perasaan kita berada di garis positif.

Ketika di tengah aktivitasmu tiba-tiba kamu teringat hal yang membuatmu bersedih, maka "auto senyum".
Ibarat kata kamu sedang terluka, ketika kamu tersenyum saat mengingat hal itu, maka sama saja kamu sedang mengoleskan obat yang dapat membuat luka itu cepat mengering.

Selamat mencoba ;)

---------------------------------

 Oh iya satu lagi, ingatlah bahwa akan ada pelangi yang cantik setelah hujan reda

Sunday, September 16, 2018

Stasiun

Di stasiun ini, seorang perempuan pernah tersenyum karena perjumpaannya dengan seseorang.
Melambaikan tangan dan tersenyum bahagia.

Di stasiun ini pula, dia harus berpisah dengan seseorang. Saling memandang dari kejauhan, tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus ia tampakkan.
Harus tersenyumkah? Tapi ia merasa sedih dengan perpisahan itu.
Harus murungkah? Tapi ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia sedang bersedih.

Ada janji yang pernah ditepati di stasiun ini, tapi ada pula janji yang tidak pernah ditepati.

Hari ini, ia datang lagi.
Sedari tadi tak berhenti memperhatikan lalu lalang orang, wajah terlihat gelisah.
Ia sedang menunggu seseorang yang sebenarnya iya tahu tidak akan datang.
Benar saja, sampai kereta yang akan membawanya pergi, datang. Orang yang ia tunggu tak kunjung tiba.

Perempuan itu duduk seorang diri di sebuah bangku panjang.
Ia tertunduk, air matanya sudah tak terbendung
Ia melihat jam tangannya, menghela nafas panjang, kemudian bangkit.
"Aku pulang"

Friday, September 14, 2018

Perempuan dan Benteng Tinggi

Setiap perempuan memiliki benteng. Ukuran tinggi bentengnya tergantung masing-masing orang. Ada yang tinggi, kokoh, tidak mudah roboh. Ada yang rendah, tapi kokoh. Dan tentu saja ada yang rendah dan juga mudah roboh.
Di saat seorang laki-laki datang, tidak serta merta benteng itu roboh, lalu mengizinkan laki-laki itu masuk ke dunianya, tergantung seberapa pandai laki-laki itu  dan seberapa kokoh bentengnya.

Suatu hari seorang perempuan dengan benteng yang tinggi, tapi entah cukup kokoh atau tidak bertemu dengan seorang laki-laki. Untuk waktu yang yang cukup lama, benteng itu masih berdiri tegak. Hari demi hari laki-laki semakin terlihat meyakinkan. Dan akhirnya, perempuan itu merasa yakin bahwa dia adalah laki-laki yang akan tinggal. Seketika benteng itu roboh. Perempuan itu tersenyum bergegas menyambut.

Tapi tahukah? Ketika benteng itu sudah roboh, sang laki-laki justru pergi, seolah-olah dia berkata " Oh ternyata hanya begini keadaan dibalik benteng ini. Baiklah, rasa penasaranku sudah terjawab, aku pergi."
Senyum yang tadinya merekah, hilang seketika. Perempuan itu berdiri mematung, tak bergerak sedikitpun. Dia hanya bisa menatap punggung laki-laki yang mulai pergi menjauh.

Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya,
Kenapa dia pergi,
Apakah aku membuat suatu kesalahan,
Apakah aku tidak pantas menurutnya,
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar dalam kepalanya. Dan sampai detik ini dia tidak mendapatkan jawaban.

Dia masih berdiri mematung, di tempat yang sama dan dengan perasaan yang sama. Kepalanya menengadah ke langit, "Baiklah, mulai hari ini benteng ini akan jauh lebih kokoh"

Hari itu dia membangun kembali puing-puing bentengnya yang telah roboh. Tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi bukan?

Setidaknya dia sudah belajar, bahwa yang dipertemukan belum tentu akan dipersatukan, bahwa apa yang dia sukai, tidak selalu dapat menjadi miliknya, dan bahwa apa dia pikir baik untuknya tidak  selalu juga baik menurut Tuhannya.

Setidaknya pula...nanti waktu bisa menyembuhkan lukanya.

Thursday, September 6, 2018

Opini: Mapan atau Tidak

Ada laki-laki yang beranggapan bahwa dirinya harus mapan dulu baru menikah.
Padahal sebagian perempuan ingin menemani laki-lakinya dari bawah, sejak dia bukan siapa-siapa.
Ini hanya opini ya, berdasarkan dari cerita banyak teman ketika ditanya laki-laki seperti apa yang ingin mereka nikahi.
Ada satu pendapat seorang teman yang langsung saya suka dan setuju.
"Kalau kita menikah denga laki-laki yang masih start up , kita akan lebih siap ketika nanti di tengah perjalanan rumah tangga ada jatuhnya. Ya namanya manusia, namanya hidup, tidak selalu di atas, pasti ada saatnya kita akan di bawah. Nah kalau awalnya kita sudah pernah 'susah', ketika nanti fase 'di bawah' itu datang, kita akan lebih siap dibandingkan dengan yang sejak awal menikah sudah mapan, apa-apa sudah ada"
Saya mengamati kata-kata teman itu, dan berpikir benar juga ya.

Well, karena mungkin saya belum mengalaminya, saya hanya bisa mengatakan 'mungkin' memang baiknya begitu. Tapi terlepas dari mapan atau tidak, ada hal yang lebih penting dari hal itu kan? Dan tanpa saya katakan apa itu, pasti banyak orang sudah tau :)
.
.
.
.
.
.
.
"Tidak harus mapan dulu, kamu hanya perlu menemukan perempuan seperti itu."

Tuesday, September 4, 2018

Hujan

Hujan pernah membuat kita berteduh di bawah atap pertokoan yang sama. Menengadahkan tangan untuk merasakan sejuknya air hujan.
Tersenyum bahagia meskipun perjalanan kita harus terhenti sejenak.

Hujan juga pernah membuat kita berdiam diri di rumah masing-masing. Membuat kita berdiri di samping jendela, melihat indahnya tetesan air hujan yang mengenai jendela.
Turunnya hujan hari itu menunda pertemuan kita.

Hujan pernah melakukan keduanya, menahan kita agar bersama sementara waktu, dan juga menahan kita agar terpisah sementara waktu.
Hujan selalu mempunyai cerita yang menarik tentang keduanya.

Saturday, August 25, 2018

Tidak

Aku pikir kamu baik, tapi kata Allah tidak.

Aku pikir kamu orangnya, tapi kata Allah tidak.
Aku pikir menujumu adalah benar, tapi kata Allah tidak.

Pada akhirnya memang benar,
apa yang aku suka, belum tentu baik menurut-NYA,
Begitupun sebaliknya, apa yang telah kubenci ternyata baik menurut-NYA.

Aku pikir kita akan bernaung di bawah atap yang sama untuk waktu yang lama,
ternyata tidak.
Kita hanya berpapasan di depan sebuah pertokoan, kemudian berlalu,
dan kamu hilang di persimpangan.